UPDATESULSEL.COM - Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota
Makassar, Melinda Aksa Munafri, secara resmi membuka kegiatan Jelajah Sampah
2026 di Kecamatan Ujung Tanah, Minggu (26/7/2026).
Ujung Tanah
menjadi titik ke-8 dari total 15 kecamatan yang menjadi sasaran rangkaian
Jelajah Sampah. Kegiatan ini digelar untuk memperkuat edukasi dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan
di Kota Makassar.
Pembukaan
acara diawali dengan aksi plogging (jalan santai/lari kecil sambil
memungut sampah) yang melibatkan unsur pemerintah, kader PKK, komunitas, hingga
berbagai mitra. Aksi bersih-bersih ini berhasil mengumpulkan 196 kilogram
sampah, yang terdiri dari:
- Sampah
Organik: 76,6
kg
- Sampah
Anorganik: 19,2
kg
- Sampah Residu: 10,2 kg
Melinda
menegaskan bahwa Jelajah Sampah bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan
gerakan bersama untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Ia
menggarisbawahi bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada
kesadaran setiap keluarga.
“Mulai 1
Agustus, TPA Tamangapa secara resmi hanya menerima sampah residu. Artinya,
sampah organik dan anorganik harus sudah dipilah dan dikelola sebelum sampai ke
TPA. Namun, kami ingin meluruskan informasi di masyarakat: pengangkutan sampah
tetap berjalan seperti biasa. Yang berubah adalah pola pengelolaannya, bukan
pelayanannya,” ujar Melinda.
Ia
menjelaskan, sampah organik nantinya akan diolah menjadi kompos, pakan maggot,
maupun dimanfaatkan untuk program urban farming. Sementara itu, sampah
anorganik disalurkan ke Bank Sampah Unit (BSU) agar memiliki nilai ekonomi
sekaligus mengurangi beban sampah akhir.
Melinda
mengapresiasi Kecamatan Ujung Tanah yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam
membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Saat ini, Ujung Tanah
telah memiliki 29 Unit Bank Sampah dan menjadi salah satu kecamatan pionir yang
mengaktifkan Bank Sampah Sektoral.
“Dengan
produksi sampah sekitar 25 ton per hari—termasuk 12 ton sampah organik—Ujung
Tanah punya peluang besar jadi percontohan penanganan sampah dari sumbernya.
Jika warga konsisten memilah, beban TPA akan berkurang signifikan,” ungkapnya.
Dalam
kesempatan tersebut, ia juga mengajak jajaran camat, lurah, RT/RW, hingga tokoh
masyarakat untuk aktif menyosialisasikan kebijakan baru ini agar tidak
menimbulkan simpang siur. Melinda turut menyoroti penanganan sampah laut di
kawasan pesisir dan kepulauan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Sinergi
dengan dunia usaha dan BUMN juga menjadi perhatian utama. Salah satu bentuk
nyata yang diapresiasi adalah dukungan Pertamina dalam menghadirkan sarana
TPS3R di Kelurahan Tamalabba.
Istri Wali
Kota Makassar ini menambahkan, atas instruksi Wali Kota, seluruh armada
pengangkut sampah di tingkat kecamatan saat ini sedang dievaluasi. Pemeriksaan
mencakup kondisi teknis kendaraan dan kelengkapan administrasi demi memastikan
pelayanan tetap optimal.
“Kita ingin
memastikan seluruh armada layak beroperasi. Perbaikan sistem pengelolaan sampah
harus dibarengi dengan kesiapan sarana dan prasarana di lapangan,” tegasnya.
Sementara
itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, menyampaikan
bahwa Jelajah Sampah dirancang secara edukatif dan interaktif. Selain aksi
lapangan, warga dibekali berbagai pelatihan praktis, seperti:
- Pembuatan eco-enzyme
- Pengolahan sampah organik via maggot
dan komposter
- Pembuatan lubang biopori
- Talkshow edukasi serta pameran produk
daur ulang
Camat Ujung
Tanah, Andi Unru, turut memaparkan capaian di wilayahnya. Saat ini Ujung Tanah
didukung oleh 27 TEBA Modern di
sembilan kelurahan, 19 lokasi urban
farming, 27 titik biopori,
serta 29 Unit Bank Sampah (enam
di antaranya dalam pendampingan aktif).
Kegiatan ini
turut dihadiri oleh Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina
Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Herdiyanto, Dandenma Lantamal VI Makassar
Kolonel Marinir Wira Dharma Sotaronggal Lumbang Gaol, jajaran Tripika Kecamatan
Ujung Tanah, para lurah, pengurus TP PKK, Ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat
setempat.


