Oleh :
Mashud Azikin
Di banyak
rumah masyarakat Tionghoa, Dewa Kekayaan atau Cai Shen hadir bukan sekadar
sebagai ornamen budaya. Ia ditempatkan di sudut-sudut tertentu dengan
penghormatan khusus: meja bersih, dupa menyala, warna merah keemasan, dan
doa-doa sederhana yang dipanjatkan diam-diam. Tetapi sesungguhnya, masyarakat
Tionghoa tahu bahwa kekayaan tidak pernah semata-mata tentang uang.
Kekayaan
adalah energi kehidupanku. Ia bisa hadir dalam bentuk pelanggan yang setia,
relasi yang jujur, keluarga yang harmonis, tubuh yang sehat, atau kesempatan
yang datang tepat pada waktunya. Karena itu, ketika orang-orang tua Tionghoa
berkata:
“Ketika Dewa
Kekayaan telah pergi, maka sulit memanggilnya kembali.”
mereka
sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada
hilangnya saldo rekening.
Mereka
sedang berbicara tentang hilangnya kepercayaan.
Dan sejarah
manusia modern menunjukkan: hampir semua kehancuran besar selalu dimulai dari
sana.
Di kota-kota
besar hari ini, kita hidup dalam zaman yang sangat aneh. Orang mengejar
kekayaan dengan kecepatan tinggi, tetapi sering lupa menjaga hal-hal yang
membuat kekayaan itu mau tinggal lebih lama.
Bisnis
dibangun dengan iklan besar-besaran, tetapi runtuh hanya karena satu kebohongan
kecil. Persahabatan bertahun-tahun hancur oleh keserakahan sesaat. Jabatan
hilang karena pengkhianatan yang tampaknya sepele. Bahkan negara pun bisa
runtuh ketika rakyat kehilangan rasa percaya kepada pemimpinnya.
Dalam
filosofi Tionghoa, xinyong—kepercayaan—adalah mata uang tertinggi.
Lebih mahal
daripada emas.
Sebab uang
masih bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang pecah meninggalkan retakan
yang sering tak dapat diperbaiki sepenuhnya. Itulah sebabnya banyak pengusaha
tua Tionghoa lebih takut kehilangan nama baik daripada kehilangan modal usaha.
Mereka tahu,
ketika nama baik pergi, Dewa Kekayaan ikut pergi bersamanya.
Dan
memanggilnya kembali bisa memakan separuh umur manusia.
Quote tua
itu juga berbicara tentang momentum.
Tentang
masa-masa ketika hidup sedang terbuka lebar seperti pintu yang tak terkunci.
Ada orang
yang pernah berada di titik terbaik hidupnya: usaha berkembang, relasi meluas,
peluang datang bertubi-tubi. Tetapi justru pada fase itu manusia sering lupa
diri. Kesuksesan membuatnya merasa kebal. Ia mulai sombong, meremehkan orang
lain, hidup berlebihan, bahkan kehilangan rasa hormat terhadap proses yang dulu
membesarkannya.
Padahal
rezeki memiliki tabiat yang sangat sensitif.
Ia tidak
menyukai keserakahan yang berlebihan.
Ia menjauh
dari manusia yang lupa bersyukur.
Banyak orang
baru sadar betapa berharganya masa jaya setelah semuanya hilang. Ketika
pelanggan pergi. Ketika teman menjauh. Ketika usaha mulai sepi. Ketika telepon
yang dulu ramai perlahan sunyi.
Dan di titik
itu, manusia mulai memahami makna paling getir dari quote lama tersebut:
mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan.
Sebab
mendapatkan sering kali dibantu oleh keberuntungan.
Tetapi
mempertahankan membutuhkan karakter.
Di era media
sosial hari ini, manusia juga makin mudah terjebak pada ilusi kemakmuran. Orang
berlomba terlihat kaya, meski diam-diam hidup dari utang. Gaya hidup tumbuh
lebih cepat daripada kedewasaan finansial. Kita hidup di zaman ketika citra
sering lebih penting daripada isi dompet yang sebenarnya.
Quote
tentang Dewa Kekayaan itu terasa seperti tamparan sunyi bagi generasi modern.
Bahwa uang
bisa pergi sangat cepat.
Bahwa
kemewahan yang dipamerkan hari ini belum tentu bertahan tahun depan.
Bahwa
membangun kembali hidup dari nol jauh lebih menyakitkan daripada menahan diri
untuk tidak boros sejak awal.
Masyarakat
Tionghoa memahami prinsip ini dengan disiplin yang nyaris asketis. Banyak
keluarga kaya tetap hidup sederhana, bukan karena mereka tidak mampu membeli kemewahan,
tetapi karena mereka tahu kekayaan memiliki siklus. Hari baik tidak berlangsung
selamanya.
Mereka
percaya: rumah yang terlalu dipenuhi kesombongan akan membuat Cai Shen tidak
betah tinggal.
Tetapi yang
paling menarik dari filosofi ini sesungguhnya terletak pada aspek spiritualnya.
Dalam
pandangan budaya Timur, rezeki bukan sekadar hasil kerja keras matematis. Ada
unsur harmoni batin di dalamnya. Ada hubungan antara perilaku manusia dengan
energi keberuntungan yang mengelilinginya.
Karena itu,
rumah yang penuh pertengkaran dipercaya sulit didatangi berkah. Tempat usaha
yang dipenuhi tipu daya diyakini cepat atau lambat akan runtuh. Orang malas
yang gemar mengeluh dianggap mengusir keberuntungan dengan tangannya sendiri.
Modernitas
boleh saja menertawakan kepercayaan semacam itu sebagai mitos.
Tetapi
bukankah kehidupan memang berkali-kali menunjukkan bahwa orang yang disiplin,
jujur, rajin, dan tahu bersyukur cenderung lebih mampu mempertahankan
keberhasilannya?
Barangkali
“Dewa Kekayaan” memang bukan makhluk gaib yang membawa peti emas.
Mungkin ia
hanyalah metafora bagi hukum kehidupan itu sendiri.
Bahwa
semesta menyukai manusia yang menjaga amanah.
Di tengah
dunia yang semakin bising oleh ambisi, quote tua dari kebudayaan Tionghoa itu
terasa relevan untuk siapa saja—pengusaha, pejabat, pekerja, bahkan keluarga
biasa.
Ia
mengingatkan bahwa keberuntungan bukan hak permanen.
Bahwa
kesuksesan bukan sesuatu yang otomatis menetap.
Bahwa
hubungan baik, nama baik, peluang, dan rezeki harus dipelihara dengan
kerendahan hati.
Sebab ketika
semuanya telah pergi, manusia baru sadar bahwa memanggil kembali Dewa Kekayaan
ternyata jauh lebih sulit daripada membuatnya bertahan sejak awal.


